SEJARAH PERKEMBANGAN NAGARI
ASAL USUL DAN NAMA NAGARI
Nagari Panyakalan merupakan salah satu Nagari yang ada di Kecamatan Kubung Kabupaten Solok dengan ± 15,63 Km2 dengan topografi datar sedikit berbukit. Jarak dengan Ibukota Kecamatan ± 8 Km dan Jarak dengan Ibukota Kabupaten Solok ± 28 Km dan jarak dengan Ibukota Provinsi Sumatera Barat 60 Km, dan mempunyai 4 Jorong sebagai berikut :
- Jorong Hilie Banda
- Jorong Pakan Sabtu
- Jorong Mudiek Aie
- Jorong Halaban
Dengan batas-batas Nagari sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatas dengan Nagari Gaung
- Sebelah selatan berbatas dengan Bukit Tandang dan Muaro Paneh
- Sebelah barat berbatas dengan Nagari Koto Baru
- Sebelah timur berbatas dengan Nagari Taruang-Taruang
Secara umum Nagari Panyakalan beriklim sedang dan keadaan alamnya terdiri dari dataran rendah dengan tingkat kesuburan tanah sedang dipergunakan untuk areal pertanian berupa sawah dan ladang.
Berkenaan dengan asal usul dan nama nagari akan dijelaskan dan diterangkan secara jelas bagaimana asal usul Minangkabau, sejarah Kubuang Tigo Baleh, luhak dan kelarasan. Dan dijelaskan dalam ruang lingkup yang terkecil yaitu Nagari Panyakalan.
Sesuai ejaan dalam surat-surat dan tulisan serta plakat lama, tulisan Panyakalan adalah PANJAKALAN.
Versi I : PANJANG AKALAN.
Asal mula kata Panyakalan mulai disebutkan atau dihimbaukan dan dituliskan dalam sejarah Kubuang Tigo Baleh sekitar Tahun 1855. Setelah Inggris meninggalkan Padang 1819 beberapa tahun kemudian, Penghulu pelarian menyerahkan Minangkabau pada Belanda yang bersedia membantu mereka memerangi Paderi (Navis 1984:32/37). Pada tahun 1932 seluruh Minangkabau telah ditaklukkan Belanda, namun Kubuang Tigo Baleh belum dikuasai, Belanda baru menguasai Kubung Tigo Baleh atau seluruh Minangkabau Tahun 1838.
Penjajahan Belanda di Darek Minangkabau sebenarnya berawal dari setelah kekalahan Paderi tepatnya setelah Benteng Bonjol jatuh ketangan Belanda 16 Agustus 1837 sejak itu janji muluk yang dimuat dalam plakat Panjang dilanggar oleh Belanda.
Pada kejadian itu Belanda tidak tahu tentang letaknya dan keberadaan Panyakalan karena kedatangannya selalu bersama dengan masyarakat Koto Anau, Cupak, Talang dan kadang-kadang datangnya dari Sambilan Koto dan Saok Laweh, Gauang dan sebagiannya bergabung dengan Selayo.
Susah dicari keberadaannya masyarakat (karena orang Panyakalan pada masa itu memakai bahasa/ simbol isyarat, tentang keberadaan dan kedatangan penjajah. Dan simbol-simbol alam seperti asap unggun, kain terjemur, mengirim senjata dengan hasil yang dituai dalam bakul (katidiang) atau kayu balantak sunsang (terbalik).
Sehingga pada masa itu tidak banyak dapat serangan karena susah dicari dan tidak seberapa yang terbunuh dan tidak ada dirumah yang terbakar. Karena letaknya waktu itu Panyakalan dikaki hutan, dan jalan tidak diadakan. Maka disebut Panjang akalan (Panjang Aka)
Versi II : Panyangkalan
Asal kata Sangkal (suka menyangkal, suka membantah, suka mencemeeh dan mengkritik). Dalam perundingan dan musyawarah sebenarnya dia tidak ada yang tahu dan paham akar persoalan dimaksud, dengan menyangkal dan membantah akhirnya tahu juga pokok persoalannya. Kadang-kadang dia bisa menjadi pemegang kendali dari persoalan hingga keputusan.
Versi III : Panyaka Tampek Nan Kalam (Penyamun/Perampok)
Versi IV : Painyokalam (Perginya Malam/Gelap)
Versi V : Panjang Kalan (Panjang Kalam)
Versi VI : Padang Kalam (Pandangan Kalam/ Gelap)
Versi VII : Pandangkalan (Jadi Dangkal)
Versi VIII : Pangkalan
Sesuai makalah/ tuisan dari Ali Dinar Nurdin Dt Rajo Nan Kayo, menerangkan bahwa kata Panyakalan berasal dari Pangkalan. Karena pada jaman penjajahan dahulu bahwa daerah Hamparan dari Bukit Tangan terus ke Pakan Sabtu terus ke Halaban adalah Dataran dan direncanakan alam dijadikan lapangan kapal terbang sebagai basis dan pangkalan militer jaman penjajahan. Rencana itu tidak jadi terlaksana tetapi daerah tersebut dianggap sebagai pangkalan yang akhirnya berubah menjadi Panyakalan.
(sumber : Monografi Nagari Panyakalan, Kec. Kubung Kab. Solok)